Mulai beberapa pekan yang lalu, demo penentangan kenaikan harga BBM bersubsidi marak di berbagai tempat di Indonesia. Semakin hari semakin memuncak. Terlebih hari Selasa 27 Maret 2012 kemaren. Mulai dari mahasiswa, buruh, masyarakat umum, sampe parpol - yang seharusnya perjuangan parpol telah diwakili oleh rekan-rekannya di parlemen - ikut mendemo kenaikan harga BBM tersebut.
Siapa sih yang mau harga BBM naik, yang pastinya juga berimbas pada harga-harga kebutuhan pokok lainnya pasti ikut naik. Belum lagi kalo gaji gak ikut naik, hadeeeuh.....
Setuju atau gak setuju demo, itu sih pilihan masing-masing. Kalo saya lebih cenderung menyerahkan pengaturan harga BBM ini ke pemerintah dan DPR. Toh sudah banyak yang mikir disana. Saya gak ngerti tentang keuangan negara. Dan saya yakin sebagian besar pendemo juga gak ngerti efeknya kalo harga BBM dinaikin atau tidak dinaikin terhadap perekonomian negara.
Yah, intinya silahkan kalo mau berdemo bagi yang merasa itu perlu dilakukan. Toh, demo juga diatur oleh undang-undang, sebagai bagian dari kebebasan menyalurkan pendapat.
Tapi setiap melihat pemberitaan di tivi tentang demo, saya jadi sangat prihatin, geram, marah, jengkel, gak simpatik terhadap demo-demo yang terjadi sekarang.
Saya juga pernah ikut demo, dulu, tahun '98an. Waktu itu masih tingkat 2 kuliah di salah satu perguruan tinggi terkenal di Bandung. Pernah ngerasain dihimpit-himpit oleh sesama pendemo karena ingin merangsek maju menembus barikade petugas, kena pentungan, hampir pingsan... Tapi seingat saya kami tidak pernah melempari petugas dengan batu, membakar mobil dinas plat merah, merusak fasiltias umum, apalagi menjarah rumah makan waralaba. Kami sadar bahwa polisi, PNS yang memakai mobil plat merah, dan apatur negara lainnya, serta pegawai waralaba asing juga sama seperti kami, mereka menginginkan perubahan ke arah kebaikan. Kalo mau jujur mungkin banyak juga polisi yang mau ikut demo agar harga BBM gak naik. Mereka kan juga warga negara Indonesia, yang pastinya akan terkena dampak apabila harga BBM naik. Hanya tugas mereka saja yang mengharuskan kami harus 'berhadapan' dengan mereka.
Kalo liat demo yang sekarang-sekarang ini, waduh, saya jadi berfikir itu mahasiswa yang demo punya otak gak sih. Blokir jalan sana sini, bakar sana sini, merusak disana sini, meneror warung waralaba (seperti yang saya liat di tivi aksi mahasiswa makasar), blokir bandara Polonia di Medan, belagak jadi Robinhood menjarah SPBU dan ngasih BBM gratis ke tukang becak-motor, menjarah mobil tanki BBM. Apa hubungannya lagi waralaba sama harga BBM...? Malah masyarakat juga yang dirugikan kalo begini caranya. Heran, gak ada intelek-inteleknya koq bisa lulus jadi mahasiswa...?
Belum lagi aksi para buruh yang mengatasnamakan solidaritas memaksa buruh lainnya untuk ikut berdemo. Setau saya, demonstrasi itu katanya bagian dari demokrasi, kebebasan menyuarakan pendapat. Ya terserah dong kalo gak mau ikut demo, koq malah dipaksa-paksa, gak demokratis dong itu namanya. Nanti kalo investornya lari ke luar negeri karena alasan di Indonesia suasana perburuhannya gak kondusif, akibatnya banyak PHK, dsb, baru ngerasa!
Sekali lagi, silahkan demo bagi yang mau mengaspirasikan suaranya. Tapi yang tertib dong! Jangan anarkis, jangan merusak, jangan menghasut temennya yang gak mau demo... katanya negara demokrasi...???!!!
Saya sangat mendukung tindakan aparat penegak hukum untuk bertindak tegas terhadap demo-demo anarkis. Walaupun ada aktipis HAM, LSM HAM, apapun lah yang bertamengkan HAM, mengutuk aparat terhadap tindakannya menangani demo. Kami dukung pak Polisi. Tunaikan tugas Anda dengan baik untuk menjaga ketertiban dan keamanan. Kami sudah muak melihat anarki di negara ini!